cuplikan ini kudapat dari kompas:
Eric Fromm dalam bukunya, The Art of Loving, menyebut cinta
romantis sebagai cinta erotis. Dalam cinta ini orang mendambakan
peleburan, penyatuan dengan seorang pribadi lain. Ciri eksklusif dalam
cinta romantis ini seringkali disalahartikan sebagal keterikatan yang
bersifat memiliki.
Kita seringkali menemukan dua insan yang saling “cinta” dan tidak
merasa cinta terhadap orang lainnya. Menurut Fromm, cinta seperti ini
adalah suatu egoisme. Mereka adalah dua orang yang saling
mengindentifikasi diri dan yang mengatasi masalah keterpisahan dengan
memperluas individu yang satu menjadi dua.
Mereka memperoleh pengalaman mengatasi kesepian. Namun, karena
mereka terpisah dari manusia yang lain, mereka tetap terpisah satu sama
lain dan terasing dari dirinya masing-masing. Pengalaman penyatuan
mereka itu adalah suatu ilusi.
Cinta romantis memang bersifat eksklusif tetapi ia mencintai di
dalam pribadi yang lain itu, semua manusia, semua yang hidup. Cinta
romantis bersifat eksklusif, hanya dalam arti bahwa saya dapat
meleburkan diri sepenuhnya dan sesungguhnya (dengan mendalami) hanya
dengan satu pribadi.
Cinta ini menutup pintu bagi orang lain hanya dalam arti peleburan
erotis, penyerahan diri sepenuhnya dalam segala aspek hidup, tetapi
tetap terbuka kepada orang lain dalam arti cinta persaudaraan yang
mendalam.
Romantisme
- Dalam kebudayaan kita, cinta seringkali diandaikan hasil
reaksi emosional yang spontan, hasil keterpikatan secara tiba-tiba oleh
suatu perasaan tak tertahankan.
Sebaliknya, perasaan dapat timbul setiap saat dan dapat lenyap pula
setiap saat. Keterpikatan yang spontan yang berarti pengalaman jatuh
cinta” ini selalu terasa romantis. Dengan pengalaman ini orang
berilusi, seolah gairah yang mengiringi pengalaman jatuh cinta ini
dapat berlangsung sepanjang masa.
Stephen Palmquist, pengajar filsafat dan psikologi dari Hong Kong,
berpandangan bahwa ketergila-gilaan seseorang yang jatuh cinta akan
terpelihara selama terdapat rintangan dalam hubungan mereka. Rintangan
itu mungkin berupa perbedaan status sosial (itu sebabnya novel Agatha
Christie membuat “mabuk”), perbedaan agama, status belum/tidak menikah,
dan sebagainya.
Semakin besar rintangan, semakin romantis cinta itu. Intensitas
hubungan percintaan semacam inn datang dari hasrat untuk mengatasi
rintangan.
Namun, romantika seperti ini tidak akan bertahan selamanya. Kala
rintangan dalam hubungan telah lenyap, misalnya terjadi pernikahan,
lenyap pula perasaan romantisnya.
Mereka yang mengagungkan romantika cinta dihanyutkan romantisme,
menjadi kecewa ketika tiada lagi perasaan romantis. Selanjutnya ia akan
terbang kepada orang lain lagi sebagai objek romantismenya. Bila
romantika lenyap lagi, kembali ia terbang dan hinggap pada yang lain.
Cinta Sejati
- Gambaran romantisme di atas tidak dimaksudkan untuk
meniadakan arti penting cinta romantis. Bagaimanapun, pengalaman jatuh
cinta penting bagi setiap orang dalam menemukan pasangan hidupnya.
Setiap orang dipanggil untuk berkembang menjadi matang. Kematangan
pribadi ini umumnya dapat tercapai bila seseorang mampu berproses
menemukan diri sendiri dalam persatuan dengan seseorang dalam relasi
cinta sejati.
Fromm menyatakan: “Setiap orang harus siap menyatakan Ya" untuk
pertumbuhan dan integritas pribadinya.” Salah satu prasyarat ialah
harus ada orang yang mendorong kita untuk percaya pada diri sendiri dan
menjadi diri sendiri. Ini hanya dapat dilakukan oleh orang yang
benar-benar mencintai kita.
Cinta sejati adalah cinta tak bersyarat: yang membebaskan orang
yang kita cintai agar menjadi dirinya sendiri. John Powell, penulis
buku Unconditional Love, menyayangkan bahwa yang sering terjadi adalah
kita menggiring orang yang dicintai untuk selalu menyesuaikan diri
dengan keinginan kita.
Yang terjadi adalah kita meletakkan identitas diri yang kita
pilihkan kepada orang yang kita cintai. Kita letakkan ia di sudut
sempit dalam kehidupan, dan hanya membolehkannya menjadi seperti yang
kita inginkan. Bila demikian, yang terjadi adalah manipulasi, bukan
pembebasan.
Mengenai cinta tak bersyarat, Fromm menyatakan ini tidak berhubungan
dengan kepantasan diri. Merasa dicintai karena kepantasan diri atau
berhak menerima cinta, selalu menimbulkan keraguan: mungkin saya tidak
dapat membahagiakan orang yang saya inginkan mencintai saya. Atau
mungkin selalu ada rasa cemas: jangan-jangan suatu waktu cinta akan
lenyap.
Selain itu, cinta yang didapat karena kepantasan mudah menimbulkan
rasa getir: merasa dicintai bukan karena dirinya, melainkan karena
kemampuannya membuat orang lain meraSa senang. Ini bukanlah cinta,
melainkan manipulasi!
Dalam cinta sejati kita tidak beranggapan orang yang kita cintai
adalah yang paling baik dan paling hebat di muka bumi. Mungkin ada
orang yang lebih cocok dengan diri kita. Namun, itu tidak menjadi
masalah pokok.
Powell menegaskan bahwa yang utama adalah kita telah memilih
(berkomitmen) untuk memberikan cinta kepada orang yang kita cintai, dan
ia juga memilih untuk mencintai kita. Dalam kondisi ini cinta dapat
bertumbuh dengan baik.
Cinta sejati berkembang dari rasa ketertarikan atas pribadi lain
sebagai pribadi unik, dilanjutkan dengan keputusan untuk menyerahkan
diri secara khusus selamanya. Romantika dan komitmen saling melengkapi
untuk perkembangan cinta sejati, sekaligus perkembangan integritas kita
sebagai pribadi.
***
dan sebagai efeknya setelah baca ini aku nulis ini:
Inikah sebabnya aku nggak pernah bisa sembuh dari patah hati? Inikah
sebabnya dari waktu ke waktu rasa itu malah makin menggila? Benarkah
yang kurasakan bukan cinta betulan? hanya sebuah kehausan akan
romantisme? Kalau ini memang benar yang terjadi padaku, sudah
sepantasnya ia menolak aku, sudah sepantasnya aku tidak bisa
memilikinya…..
[http://www.galihsatria.com/galih/faces/deardiary.jsp]